Jumat, 06 Februari 2015

PAJAK YANG BIKIN STRES



Berikut merupakan curahan hati ayah saya tentang berkelitnya sistem perpajakan negeri ini :

Saya Wajib pajak di Kecamatan Tegalsari Surabaya. Saya mempunyai CV dan menjadi rekanan kecil di beberapa kantor milik pemerintah seperti RSJ Menur dan Dinas Pendidikan. Belakangan saya dibuat stres oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Surabaya Tegalsari. Terdapat perbedaan kebijakan peraturan yang berlaku di kedinasan kota Surabaya dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak, dan saya sebagai wajib pajak merasa menjadi korban. Pada dinas-dinas di kota Surabaya, pajak dari setiap proyek yang saya kerjakan telah dipungut oleh bendaharawan sebesar 1,5% (Merujuk pada peraturan lama) sedangkan peraturan baru dari Dirjen Pajak adalah sebesar 1%. Namun kedua lembaga tersebut kurang berkoordinasi dengan baik sehingga satu sama lain tetap kekeuh menjalankan seperti tersebut. Dari proyek-proyek yang telah saya kerjakan di beberapa dinas tersebut terdapat perbedaan jumlah pengeluaran pajak 0,5% seperti diatas, dalam kasus saya SEMESTINYA pajak saya lebih bayar Rp. 3.500.000,00 Karena telah ditarik pajak oleh bendaharawan dinas sebesar 1,5% sedangkan yang seharusnya masuk ke kantor pajak adalah 1%, jadi logikanya kan pajak hutang ke saya 0,5%. Pada awalnya KPP Pratama Tegalsari menunjukkan data-data seperti tersebut. Namun lama-kelamaan KPP Pratama Tegalsari, yang untuk selanjutnya dikerjakan oleh Bapak Enrico mulai mencla-mencle. Beberapa saat kemudian Bapak Enrico mengatakan bahwa justru saya yang memiliki tanggungan ke pajak sebesar Rp. 1.800.000,00 yang entah didapat dari data mana, sepertinya pihak pajak MENCARI-CARI KESALAHAN, bahkan ada data yg dilampirkan diambil dari pajak sekitar tahun 2000an awal, ini kan data sudah lebih dari 10 tahun lalu? Kalau pun saya ada tanggungan pada tahun itu mengapa baru diberitahukan lebih dari 10 tahun kemudian? Berikutnya Bapak Enrico mencle lagi dengan menyebutkan saya tidak ada tanggungan Rp. 1.800.000,00 seperti diberitakan sebelumnya, tapi lebih bayar Rp. 500.000,00. Setelah saya teliti dari data-data yang diberikan beliau mengenai lebih bayar Rp. 500.000,00 ini (Yang padahal secara logika matematika harusnya saya lebih bayar Rp. 3.500.000,00) ternyata saya temukan DATA SAYA TELAH DIOTAK-ATIK DAN DIGANTI oleh Bapak Enrico. Data yang DIGANTI adalah data HARGA BELI BARANG PROYEK saya, padahal harga tersebut adalah HARGA YANG SAYA DAPAT DARI PASAR DENGAN PEMBELIAN LANGSUNG, lantas kenapa Bapak Enrico merubahnya? APAKAH PAJAK MEMILIKI HAK UNTUK MENGGANTI HARGA BELI BARANG DARI WAJIB PAJAK? Terakhir, hari ini (6 Februari 2015) pihak KPP Pratama Tegalsari memberitahukan lagi bahwa ternyata saya tidak jadi terdapat lebih bayar melainkan mempunyai tanggungan Rp. 800.000,00. Mengapa pihak pajak dapat mencla-mencle seperti ini? Saya yang telah disiplin setiap bulan dan setiap tahun melaporkan pajak pengeluaran CV saya merasa jengkel, SUDAH RAJIN BAYAR PAJAK TETAP DAPAT MASALAH. Mohon pihak pajak menjelaskan semuanya secara clear dan tuntas. Terimakasih.

Selasa, 08 Juli 2014

Merantau

Mungkin saya adalah orang yang paling telat merantau. Teman-teman SMA atau SMP saya udah pada merantau ke Jogja, Bandung, Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Teman-teman kampus saya sebagian besar juga perantauan baik dari berbagai kabupaten di Jawa Timur maupun di luar itu. Tapi saya sampai umur yang hampir menginjak 21 tahun ini belum pernah tinggal selain dengan keluarga, sampai tiba saat ini.

Kerja Praktek di jakarta mengharuskan saya untuk memilih dua opsi tempat tinggal : ngikut di rumah saudaranya temen, atau ngekos sendirian. Dan pilihan pun jatuh pada opsi kedua. Awalnya sih ketika masih di Surabaya sering bertekad untuk bisa hidup sendiri. Karena cepat atau lambat saya juga pasti harus meninggalkan rumah orang tua saya. Paling cepat tahun depan, paling lambat dua tahun lagi. Saya harus pergi..entah itu untuk melanjutkan studi atau mencari pekerjaan di kota atau pulau lain.

Tapi ternyata merantau itu tidak semudah yang saya bayangkan. Beberapa bulan lalu ketika adik saya harus tinggal 2 minggu jauh dari rumah di benua seberang dia sering mengeluh homesick, saya yang menguatkan dengan sok-sokan bilang "halah 2 minggu ae lho,ojo cemen ta". Dan ternyata saya kena batunya. Baru beberapa hari tinggal di perantauan dan saya sudah homesick tingkat angkut. Saya yang biasanya nyantai, jarang melow kecuali nonton drama asia, berubah seketika menjadi mellow-dramatic banget di tempat perantuan ini.

Penyebabnya sih terutama karena kurangnya rasa perhatian dari lingkungan sekitar, dan tidak adanya komunikasi dengan  pihak luar. Di kosan yang saya tinggali untuk 2 bulan kedepan ini semua penghuni kos sibuk dengan wilayah privasinya masing-masing. Tidak adanya komunikasi timbal-balik dengan lingkungan sekitar, ditambah dengan tidak adanya faktor teknologi penunjang komunikasi seperti televisi dan internet laptop praktis membuat hidup saya terasa seperti terkungkung dalam ruangan 3,5 x 3.5 meter yang sejuk tapi terisi sesak oleh aroma rindu dan kesepian.

Waktu siang hari, ketika masih berada di ruangan kantor terasa lebih mengasikkan. Ada tugas yang harus dikerjakan, ada teman yang menenami. dan ada senior yang membimbing. Namun ketika malam datang di kota ini, semua hiruk pikuk kota metropolitan berubah menjadi susasana kesepian yang menajam. Kerjaan saya kalau malam hari hanya ngenet lewat HP, baca komik, chatting, telpon sesekali. Sudah. Gitu aja.

Hubungan saya yang menginjak 4,5 tahun juga harus berubah pola. 4,5 tahun kami lalui tanpa pernah berjauhan, paling hanya ke luar kota beberapa hari. Namun ketika hitungan bulan harus memisahkan jarak di depan mata,maka cara komunikasi pun harus berubah. Yang tadinya jarang telpon kalo di Surabaya,disini hampir tiap hari.

Yang paling berat dari merantau ini adalah kesendiriannya. Ketika masih memiliki teman satu kos atau satu kontrakan, rasa rindu kepada keluarga dapat dibagi sama berat. Tapi ketika harus hidup sendiri tanpa siapapun, berbagai masalah harus dihadapi sendirian. Saat itulah baru terasa betapa kerasnya hidup ini. Terlebih bagi yang sepanjang umurnya belum pernah melakukan apa-apanya sendirian. Air mata yang jarang jatuh di rumah, disini terasa ringannya. Rindu yang kurang terasa ketika bersama, disini tertahan menyakitkan.

Saya mungkin masih belum lolos tahapan ini. Tapi cepat atau lambat saya harus berdamai dengan semua ini. Karena hidup nantinya masih akan lebih berat ketimbang saat ini.

...

Selain kebutuhan akan sandang, pangan, papan, dan colokan. Manusia membutuhkan satu lagi faktor penting dalam hidup yang disebut "Teman".


~Ditulis di kosan teman dalam rangka mencari teman~

Rabu, 11 Juni 2014

Storyline

Me (and Dina) have one same dream. To travel arround the world.

I remember the first time I finshed Edensor by Ikal,that feeling came up to me,..I will be like him,travel whole of Europe and a half of Africa,I will. Then I met Dina, after years we've been together then we realized we also have a same dream. Many,actually. But this is one from the list. We have a dream to travel,or just being a tourist in many beautiful countries.

And after half way studying in my department,I found other joyness part of being in this department. My seniors,alumnus of my department,is spread in many countries for work. Even in Indonesia,Offshore Engineers minimum place is in Batam,arround Natuna Sea,and other seas which Indonesia has. Also there are many of them live in Singapore and Malay. One of my (and dina.s) destination to live our life. And there are few of them in Europe and Uni Arab Emirates. Or at least many of them ever felt study,or took a job,or just travelled in these countries.

One of my fav alumnus named Vlad. He's an Offshore Engineer ITS,like me. He's a SMADABAYA also,like me. And he's young and successful,hopefully I will. He and his wife live in Singapore, got excellent job,young couple with a baby boy,and the best part..they ever gone to Dubai, US, Norway, France. Oh jeez. That is a life which me (and Dina) really want. Our dream life.

But back to reality,I'm just a seventh-semester-soon student. I do very close to my college last story. Then I'll work,absolutely not in this beloved city. I'll go from here,maybe Batam is a very good place to start my real life. Based on those alumnus storyline,they are made it through Batam way.

I'll go there..
very soon..

And I'll write my own storyline,just as good as them, or even better..


Soon..

PS : I always pray to God that Dina's name will always be there beside me in my storyline.

Rabu, 04 Juni 2014

Seimbang

Tiba-tiba ingin menulis blog tengah malam begini

Sekarang bulan Juni,satu bulan sebelum bulan juli. Emang di bulan Juli ada apa aja? Tahun ini sih bulan Juli lagi padat-padatnya. Yang paling utama bulan Juli tahun ini termasuk bulan Ramadhan,waktunya puasa dan kembali mendekatkan diri padaNya. Yang kedua bulan Juli tahun ini ada pemilihan Presiden Indonesia periode 2014-2019,ini nih yang jadi inspirasi tulisan ini. Yang ketiga keempat sih gak terlalu penting ya,cuma karena bulan Juli tahun ini ultah saya tepat dengan Hari Raya Idul Fitri dan jadwal Kerja Praktek yang juga di bulan Juli tapi masih belum pasti. Oke skip yang ini.

Di sini saya ingin bicara (or menulis) masalah tren yang lagi happening menjelang pilpres tahun ini. Ya sejak dulu reformasi dimulai, masa-masa sebelum pilpres selalu dikenal dengan kegiatan "Kampanye"nya. Kampanye sendiri dalam kbbi artinya ~ kam·pa·nye n 1 gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb); 2 kegiatan yg dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yg bersaing memperebutkan kedudukan dl parlemen dsb untuk mendapat dukungan massa pemilih dl suatu pemungutan suara ~ itu.
Tapi rupanya akhir-akhir ini tren cenderung berubah.
Perubahan pertama,karena sekarang jamannya social media jadi kampanye tahun ini kebanyakan bersarang di social media. Ini masih positif.
Nah tren yang kedua. Kampanye tahun ini bukan dilakukan dengan jalan menonjolkan visi misi or kehebatan para capres yang diusung. Tapi tren saat ini adalah dengan saling menjelek-jelekkan lawan (atau mungkin menjelekkan diri sendiri atas nama lawan) dengan berbagai kelemahannya. Si capres A dijelekkan sebagai seorang pelanggar HAM,dsb. Sedangkan si capres B dijelekkan sebagai boneka,antek barat,bahkan isu-isu SARA lainnya.
Parahnya lagi,lokasi saling ejeknya sudah gak jaman di jalanan. Yang ada sekarang saling ejek di social media. Tiap buka facebook isinya akun ini menyerang si A,akun itu menyerang si B. Tidak tanggung-tanggung,mereka yang terjebak dalam permainan saling cemooh ini mulai dari teman-teman satu kampus,alumni yang udah kerja di perusahaan besar,hingga suatu sistus yang mengusung keislaman.

Yang saya ingin kedepankan disini adalah mengenai 'KESEIMBANGAN'. Saya dari dulu selalu berusaha berpikir seimbang. Berpikir seimbang yang saya maksud disini adalah tidak menilai negatif satu pihak saja. Se-salah-salah-nya seseorang pasti ada sebuah alasan di balik semua itu. Prinsip saya dalam melihat suatu kasus yang melibatkan dua pihak atau lebih adalah cobalah untuk menempatkan diri kita sebagai semua pihak,bukan pihak tertentu saja. Baru ditarik kesimpulan dan jalan tengahnya bagaimana.

Pada kasus capres ini saya mengajak semua orang untuk Berpikir Seimbang. Jangan karena anda pendukung salah satu calon maka calon yang lain dapat anda jelek-jelekkan dan cemooh semaunya sendiri. Mereka juga manusia,mereka juga punya hati. Apakah kita mau diri kita dianggap sebagai pembunuh,penculik,pembohong,tidak beragama,hanya boneka,dan sebagainya. Kalaupun benar salah satu capres kita adalah penculik demonstran,maka tentunya dia punya alasan. Bisa saja itu karena perintah atasan,atau dalam upaya mengamankan negeri. Jika benar juga capres yang lain hanya boneka memangnya kenapa? Bukankah kita juga boneka dari orang tua,bos,ataupun mereka yang lebih memiliki kuasa?
Para capres itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,hendaknya kita yang HANYA bertindak sebagai pemilih bersikap wajar saja dalam menanggapinya,tinggal pilih mana yang terbaik bagi masa depan kita. Kalau bisanya cuma protes sana sini,kenapa gak nyalonin aja jadi capres juga?

Prinsip Berpikir Seimbang ini hendaknya kita aplikasikan tidak hanya dalam menanggapi capres, namun juga dalam melihat permasalahan sehari-hari. Mulai dari masalah dimarahin ortu, pacar, hingga menentukan aliran keagamaan. Kita tidak dapat seenaknya saja berpikir dan menganggap kita adalah yang paling benar. Karena kebenaran itu sangat subjektif saat ini. Cobalah untuk memahami orang dan pemikiran lain. Jika memang tidak dapat untuk disatukan,maka hormatilah mereka. Bukankah melangkah bersama-sama meskipun tujuan akhirnya berbeda itu lebih baik,dari pada mengambil jalan yang berlawanan sejak awal?

Hidup itu harus seimbang.

Salah-Benar, terutama saat ini. hanyalah dua ruang yang disekat oleh selembar kain tipis.
Semu.



Catatan tengah malam di bulan Juni

Rabu, 05 Februari 2014

Kuliah

Setelah tiga tahun mengenyam bangku kuliah, dan setelah melihat perkembangan teman-teman dan diri saya sendiri, tiba-tiba saya menyadari satu hal.

Yes, We have grown up.

Coba kita sedikit flashback ke masa lalu, jaman SMA, masa yang paling indah katanya. Menurut saya semua tahap di hidup kita memiliki kesannya masing-masing. Semua ada enak-gak enak nya. Di setiap tahap itu juga pasti ada teman dan sahabat yang silih berganti. Yang ingin saya bicarakan disini adalah mengenai kedewasaan. Pada tahap SMA kita masih terjebak dengan kehidupan remaja, masih belum memikirkan mau kemana, jadi apa kita nantinya. Semua masih se-kehendak orang tua, atau kehendak guru juga mungkin. Hidup hanya untuk sekolah dan bermain.

Lalu lihat kita yang sekarang. Tahap kuliah benar-benar akan mengubah hidup anda. Apa yang anda,  kita ambil sebagai jurusan kita adalah masa depan yang kita tentukan. Mungkin tidak seratus persen, tapi banyak persen yang kita ambil, kita lakukan di dunia perkuliahan akan berpengaruh pada tahapan kehidupan kita nantinya. Bisa dikatakan pintu gerbang untuk sisa hidup kita kedepannya. Di sinilah kedewasaan kita berkembang. Kita akan menentukan hidup kita sendiri, kita akan jadi apa nantinya, dua tahun kedepan, lima tahun kedepan, sepuluh tahun kedepan. Kita yang menentukan kapan kuliah kita selesai. Kita yang menentukan studi apa yang akan kita pelajari lebih lanjut, yang sedikit banyak juga berpengaruh pada hal apa yang akan kita lakukan setelah kehidupan kampus. Kita mulai menentukan semuanya disini, di tahap kehidupan kampus ini.



*Dibuat di tengah galaunya memikirkan jalan studi apa yang akan di tempuh, tempat Kerja Praktek apa yang harus dimasuki, dan memulai semester baru dengan mata kuliah yang sudah sangat kepalang basah untuk tidak terjun dalam dunia kemaritiman ini.

Rabu, 06 November 2013

TRUST

Posting kali ini merupakan curhat yang paling curhat, galau yang paling galau. Dengan perasaan sepenuh jiwa, sebisa yang saya bisa untuk ungkapkan.

TRUST atau Kepercayaan. Bisa terhadap seseorang atau sesuatu hal. Sebuah kepercayaan adalah kegiatan yang tidak mungkin bisa dicapai dalam semalam saja, dibutuhkan jalan yang panjang berliku mingguan bulanan tahunan untuk mendapatkan sebuah kepercayaan. Untuk mencari kepercayaan terhadap Tuhan pun manusia juga membutuhkan waktu yang panjang, seperti diceritakan dalam kisah Nabi Ibrahim yang mencari Tuhannya. Begitu pula membangun suatu kepercayaan dalam sebuah hubungan. Bisa dalam pertemanan, percintaan, rumah tangga. Tentunya tidak dalam hitungan hari kita dapat percaya pada seseorang, bahkan teman atau pasangan terdekat sekalipun.
Kita menjadi dekat dan percaya karena berbagai pengalaman dan waktu yang kita lalui bersama.

Lalu pertanyaan yang muncul, apakah kepercayaan yang telah tertanam lama itu bisa begitu aja hilang karena suatu hal kecil yang tidak sebanding dengan proses yang telah dilaluinya?

Saya belum mendapatkan analogi yang tepat dalam menggambarkan kepercayaan. Apakah itu dibangun seperti rumah atau bangunan yang kokoh, ataupun hanya dibangun seperti tumpukan batu bundar yang semakin keatas semakin mengecil atau sebaliknya. Yang saya ingin pertanyakan pada gambaran ini adalah bagaimana jika kepercayaan ini dirusak oleh sesuatu yang cukup kecil. Jika kepercayaan bagaikan sebuah rumah atau bangunan yang kokoh, jika dilempari suatu barang yang cenderung kecil maka ia akan bertahan, walopun rusak baik sedikit ataupun parah, tapi tetap berdiri dengan kokohnya. Tapi bagaimana kalau kepercayaan ini hanyalah seperti tumpukan batu bundar dalam permainan kesetimbangan ala jepang? Pastinya dengan sekali lemparan kerikil saja kepercayaan ini akan rusak tak karuan.



Tapi bukankah waktu dan berbagai pengalaman itu yang merekatkan setiap kepingan kepercayaan seperti semen yang melekatkan satu bata dengan bata yang lain, yang mengelas satu baja dengan sambungan baja lain.

Kalau begitu masih mungkinkah kepercayaan itu runtuh begitu saja?

Kamis, 06 Juni 2013

Mimpi hari ini

Mimpi itu bisa berubah

Dari kecil saya mungkin termasuk anak yang tidak punya banyak mimpi, tidak tahu apa cita-cita saya nantinya. Banyak anak kecil yang dari masih belum tahu arti 'dokter' udah bercita-cita jadi dokter. Saya sebenarnya cukup penasaran, kenapa di Indonesia ini setiap anak kecil pasti bermipi jadi dokter ya? Salah asuhan kah? Beruntung sedari saya tumbuh orang tua saya tidak pernah menjejali saya dengan mimpi yang terlalu umum itu. Jadilah saya ketika kecil ketika ditanya cita-citanya jadi apa? Saya berpikir sejenak, profesi yang saya tahu waktu itu hanya 'dokter' dan 'insinyur', meskipun saya tidak benar-benar tahu insinyur itu seperti apa tapi berhubung dokter sudah terlalu mainstream, jadilah saya selalu menjawab 'Insinyur'!

Mimpi saya kembali diuji ketika memasuki masa-masa akhir SMA. Saya yang dari SD SMP SMA tidak pernah tahu dan tidak pernah berencana akan berlanjut kemana jalan hidup saya nantinya mulai bertanya pada diri saya sendiri. "Setelah lulus SMA ini aku akan melanjutkan kuliah dimana ya?". Blank. Kosong. Saya tidak punya pelajaran favorit. Keahlian saya hanya menggambar saat itu. Ingin melanjutkan kuliah di jurusan desain tapi pasti akan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Lihat daftar jurusan di UNAIR kok merasa tidak ada yang cocok. ITB jauh, mahal, dan saya masih minder. Jadilah saya bertekad masuk ITS. Jurusannya? Yang ada hubungannya dengan gambar tapi juga terkenal, ya Arsitek. Saya pun mulai membangun mimpi untuk menjadi arsitek.

Baru juga membuat mimpi jadi arsitek. Datang cobaan lagi. Kali ini dari dalam diri, dari ayah juga sih. Setelah fix harus mengikuti SNMPTN Tulis (whatever it will be named) kembali ada pertanyaan. 'Kalau milih arsitek yakin bisa masuk? Saingannya banyak banget lho.' Dan ternyata menjadi arsitek itu juga udah terlalu mainstream saat ini. Coba tanyakan pada siswa SMA di seantero Indonesia, kuliah mau masuk mana? Pasti 70-80% menjawab dengan lantang 'Teknik!'. 'Tekniknya teknik apa?'. Pasti jawaban yang muncul tidak jauh dari seputar Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Arsitek. Baru-baru ini Teknik Kimia juga ikut menjadi favorit siswa-siswi SMA. Lalu saya harus milih apa? Karena SNMPTN ini taruhan untuk hidup saya kedepannya. Hingga setelah memperhitungkannya masak-masak. Saya pilih Teknik Kelautan.

Ini ngomongin mimpi kan? Kenapa jadi nyambungnya cerita saya ya?
Okai, kembali ke mimpi. Mimpi saya yang tidak konsisten sekarang kembali berubah. Kali ini semua tentang anjungan minyak lepas pantai, masyarakat umum menyebutnya rig, kuliah saya menyebutnya platform atau offshore structure. Siapa yang akan menyangka, dulu mungkin tidak pernah terbersitkan sedikitpun di pikiran saya untuk bermimpi bekerja di anjungan minyak lepas pantai. Tapi sekarang, setelah dicekokin 4 semester segala tentang anjungan. Saya jadi mempunyai sebuah impian baru, yang semoga bisa konsisten untuk kedepannya..

Saya ingin bekerja di anjungan migas lepas pantai di Laut Utara.
Saya memimpikan gelombang lautnya.
Saya memimpikan angin kencangnya.
Saya memimpikan udara dinginnya.

Hidup di Alaska, dan sekarang Norway, adalah satu dari mimpi-mimpi saya yang lain. Saya juga masih punya mimpi untuk keliling dunia. Saya punya mimpi untuk mempunyai sebuah cottage dengan atap terbuka di daerah utara untuk melihat aurora. Saya punya mimpi untuk membuat orang tua saya bahagia dan bangga. Saya masih bermimpi untuk menikah dan membangun hidup dengan kekasih saya. Dan masih banyak mimpi-mimpi lain untuk diperjuangkan.

Karena hidup masih panjang.

Mimpi mungkin masih terus berubah.

Karena mimpi adalah refleksi dari keinginan seseorang atas apa yang telah didapatnya saat ini, apa yang sedang dipertahankannya.





Rabu, 05 Juni 2013

Rainy Night

Still rainy outside.
Getting harder.

I'm lack of books to read. Once my Professor said "Read as much as you can! Read anything! The more you know about something, the more you can easily talk to other people. The more you get link and relation." And I'm stuck here with nothing to read. Actually every single day I always read. But most of them spent with reading my Twittter timeline. Also reading news portal, Kaskus, and spending my time in 9gag. That's my daily routine. I know too much time for social network will kill you. But yaa..back to last post..I haven't changed my life yet. So when will it be?

'Person is what he/she read'

So I consider to being neutral in my life. I will read both from each side. You can't be too right, you'll need a little left on your shoulder. But too much right is just better than too much left.
Soekarno choose the left side, because the right side is not so right  nowdays.
Maybe being not-so-mainstream is a must. Being anti-mainstream is way better, even if it's rough.

I pretend to be myself.

I proud to be what I am, and what I would be.

And I have sudden thought..

..maybe I'll write a book someday.

Midnight post

00.30

Rain fell in the middle of the night.

Randomly want to write in this cool midnight.
Yeaa..I always sleep late these days.
Usually at 1 a.m.

Okay let's write some light thinks.

This afternoon I met people I envy for. They are two of my friends in college. They both so active in many events and organization. I envy them. Think they're one step forward from mine. Holding good position in their organization. Doing things for develops their skills. One of them has just came from Indonesian Youth Summits in Bandung last week. And the other currently participate on some kind of Leadership Camp, and pointed as 5 best presentation. One also can do design job, better than me maybe. The other can presented his slide so awesomely. Both are religious too. What a perfect combination.

And so am I. Sitting here. Do nothing. Not good in my subjects. Neither in everything else.

I want to change the world. But I haven't changed my life yet.
So what else can I do?

Random mind at midnight.

Sabtu, 16 Maret 2013

Suddenly love this quote by Eintein

"Your question [about God] is the most difficult in the world. It is not a question I can answer simply with yes or no. I am not an Atheist. I do not know if I can define myself as a Pantheist. The problem involved is too vast for our limited minds. May I not reply with a parable? The human mind, no matter how highly trained, cannot grasp the universe. We are in the position of a little child, entering a huge library whose walls are covered to the ceiling with books in many different tongues. The child knows that someone must have written those books. It does not know who or how. It does not understand the languages in which they are written. The child notes a definite plan in the arrangement of the books, a mysterious order, which it does not comprehend, but only dimly suspects. That, it seems to me, is the attitude of the human mind, even the greatest and most cultured, toward God. We see a universe marvelously arranged, obeying certain laws, but we understand the laws only dimly. Our limited minds cannot grasp the mysterious force that sways the constellations"

Rabu, 09 Januari 2013

RSBI Surabaya GRATIS TIS TIS

Sudah lama ga posting, dan tiba2 ingin posting ditengah semaraknya UAS Matematika Rekayasa dan Mekanika Teknik 2 esok hari. Tapi berhubung ini mengenai kemaslahatan orang banyak (ehem), jadi saya putuskan untuk mengorbankan sedikit waktu belajar saya
Sore ini saya iseng-iseng baca detikSurabaya, dan ternyata yg lagi HOT di kanal berita ini adalah mengenai Bu Risma (Walikota Surabaya tercinta) yang ngotot ingin mempertahankan sekolah RSBI di Surabaya. Sudah sejak lama masyarakat Surabaya tahu Bu Risma ini orangnya memang suka ngotot, tapi kenapa masyarakat Surabaya tetap bersimpati kepadanya? Karena beliau bisa membuktikan dapat membawa Surabaya ke arah yang lebih baik. Saya tegaskan disini saya bukan simpatisan Bu Risma, tapi coba anda-anda yang dari luar kota (Jakarta, Bandung, etc) lihat keadaan kota Surabaya. Rapi, banyak taman, trotoar luas, tidak macet, dan kota ini cukup teratur. That's why i love being here.
Oke sudah ngelantur terlalu jauh...
Dari berita yang ada di detikSurabaya ini satu hal yang membuat saya miris. Komentar para pembaca yang notabene bukan warga Surabaya. Memang saat ini jamannya demokrasi, semua orang bisa bebas berpendapat. Tapi yang saya sesalkan, mereka berpendapat tanpa melihat keadaan sebenarnya di lapangan. Banyak komen-komen yang menyebut 'Bu Risma hanya ingin mencari uang lewat RSBI' 'Walikota mata duitan', di berita lain ketika ada siswa sendiri yang diwawancarai dan menyatakan bahwa sekolahnya GRATIS langsung aja ada komen 'Anak ini dari kecil uda pinter bohong' 'Yang diwawancarai anak kepala sekolah'. Meskipun juga banyak komen berupa kritik yang membangun, tapi lebih banyak komen-komen yang mencibir.
Saya disini ingin menjelaskan mengenai sekolah RSBI di Surabaya, bukan dari sudut pandang ahli pendidikan atau ahli politik. Bukan pula karena ada suap sana sini atau backingan Parpol (Please, saya sudah tidak percaya lagi dengan Parpol dan Pejabat maupun DPR saat ini). Saya disini berbicara sebagai keluarga salah satu Murid Aktif Sekolah RSBI Surabaya.
Saya adalah alumni SMP dan SMA yang sekarang termasuk Sekolah RSBI di Surabaya. Begitu pula dengan adik kandung saya. Adik saya ini sejak masuk SMP hingga sekarang kelas X SMA merasakan menjadi siswa dari Sekolah RSBI. Sejak masuk SMPN 1 Surabaya (RSBI) Adik saya ini tidak pernah ditarik uang sepeserpun. SPP maupun Uang Pangkalnya GRATIS. Berlanjut ketika adik saya juga berhasil masuk ke SMAN 2 Surabaya, lagi-lagi tidak ada penarikan Uang Pangkal maupun SPP. Memang buku-buku yang dipakai di Sekolah RSBI ini berupa buku bilingual, tapi sekolah juga tidak mewajibkan siswanya membeli di sekolah. Saya sendiri yang punya pengalaman mencari buku bilingual di semua toko buku di Surabaya, tapi ternyata memang sedikit susah mencarinya. Sekolah di Surabaya (RSBI maupun Reguler) tidak berani melakukan penarikan-penarikan apapun terhadap siswanya. Bahkan wali murid yang sampai berpikir keras, bagaimana sekolah dapat berjalan kalau SPP saja tidak bayar, itu yang benar-benar ada di benak orang tua saya.
Saya tidak menentang MK mengenai pembubaran RSBI, tetapi saya mengharapkan MK maupun Dinas Pendidikan di seluruh Indonesia dapat meniru atau meninjau apa yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Di Surabaya sekolah dari SD hingga SMA GRATIS. Kalau tidak percaya silahkan tanyakan kepada seluruh wali murid yang anaknya sekolah di Sekolah Negeri di Surabaya. Saya mengharapkan Dinas Pendidikan kota lain dapat meniru hal ini. Karena saya juga tidak buta, saya tahu banyak sekolah-sekolah favorit (baca : RSBI) di kota-kota lain memang melakukan penarikan Uang Pangkal maupun SPP yang wow banget. Saya pernah mendengar cerita dari kerabat di Kota Reog misalnya, untuk masuk SMA favorit di kota tersebut minimal harus mengeluarkan Uang Pangkal 5juta. Bahkan ada rekan kerja orang tua saya di Kota Tahu yang bercerita anaknya ketika akan masuk SMP favorit di kota itu oleh guru yang menjaga pendaftaran menyebut "Silahkan ibu bayar uang (sekian) juta atau anak ibu tidak dapat masuk ke sekolah ini". Itu baru contoh kota-kota kecil di Jawa Timur, belum di Jakarta yang metropolitan itu.
Mengenai salah satu latar belakang keputusan MK tentang RSBI tersebut, bahwa RSBI menjadikan gap antara siswa yang kaya dan yang miskin. Saya akan sharing cerita adik saya mengenai seorang temannya. Adik saya sering cerita mengenai teman sekelasnya saat ini di SMAN 2 Surabaya, temannya ini orang tuanya sudah kabur entah kemana, dia tinggal dengan neneknya, dan hanya seorang kakak yang telah berkeluarga dan juga hidupnya pas-pas an yang dapat sedikit meringankan biaya hidupnya. Saat ini dia bekerja sebagai operator/penjaga warnet setiap sepulang sekolah. Dari pekerjaannya itulah dia dapat masukan untuk uang jajannya. Bayangkan, seorang penjaga warnet part-time bisa sekolah di SMAN 2 Surabaya yang terkenal sekolah tajir itu, RSBI lagi. Karena apa? Karena biaya sekolah di Surabaya itu GRATIS. Syaratnya jika ingin masuk SMA favorit disini hanya lolos Tes Masuk. Yang berdasarkan pengalaman adik saya tahun lalu memang benar-benar susah.
Memang Sekolah RSBI di Surabaya masih mempunyai banyak kekurangan, saya tidak pernah mengingkari itu. Tapi yang ingin saya tunjukkan disini bahwa sekolah di Surabaya ini gratis dan ditujukan kepada semua warganya dari kalangan manapun yang mampu berusaha dan bersaing untuk masuk ke Sekolah Negeri tersebut, Reguler maupun RSBI. Saya ingin ke-gratis-an sekolah di Surabaya ini dapat dicontoh oleh kota-kota lain di seluruh Indonesia. Karena masa depan bangsa ini tergantung dari pendidikan generasi mudanya. Jadi apapun keputusannya, saya berharap Dunia Pendidikan di Indonesia ini harus lebih baik lagi.


Maaf kalo longpost ye gan..

Jumat, 19 Agustus 2011

Pendidikan Pancasila


Beberapa saat lalu saya sempat berdebat kusir dengan Dina mengenai Pancasila. Kurang lebih dia menuduh saya sedang mengalami krisis moral karena menganggap Pancasila hanya berkaitan dengan Orde Baru. Tapi apakah saya salah jika menganalogikan Pancasila dengan Orde Baru ? Atau apakah benar moral saya sedang sedikit demi sedikit tereduksi ?
Seperti kita tahu selama Pak Harto berkuasa, atau dikenal dengan jaman Orde Baru, setiap mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti P4. Semacam Pendidikan Pancasila. Jika dilihat secara morfologis memang tidak ada yang salah dengan pendidikan semacam ini, malah dapat dikatakan sangat bagus. Karena Pancasila sendiri merupakan dasar falsafah negara dan sebagai pedoman bagi setiap rakyat Indonesia.
Tapi seperti kita tahu juga, sudah menjadi rahasia umum bahwa Pancasila dan segala jenis pendidikannya selama Orde Baru hanya digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan Pak Harto dan kroni-kroninya. Pancasila kala itu dikerdilkan baik segi arti maupun pemahamannya hanya demi kepentingan beberapa pihak belaka.
Namun lebih dari itu, yang lebih membuat miris lagi. Orang-orang yang dibesarkan pada jaman Orde Baru, yang dididik dengan mental Pancasila, buktinya malah sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pedoman negaranya tersebut. Coba kita tengok para wakil rakyat kita di Senayan itu, mereka adalah orang-orang yang dibesarkan dalam naungan Orde Baru, dengan berbagai Pendidikan Pancasila. Namun lihat cerminan perilaku mereka, mereka ikut menginjak-nginjak harga diri Pak Harto yang membesarkan mereka, tapi perilaku merekapun tidak jauh beda dari orang yang mereka injak-injak. Bahkan kalau boleh saya mengatakan, masih jauh lebih baik Pak Harto daripada para wakil rakyat itu.
Kembali ke diri kita masing-masing. Sudah sejak dalam naungan pendidikan dasar kita dapatkan pelajaran PPKn, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, namun apakah kita sudah berperilaku seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri negara ini melalui Pancasila ? Jika kita mengaku sudah, lalu mengapa contekan masih merajalela ? Mengapa pakaian mini dianggap jamannya ? Mengapa tawuran dan bentrokan masih terjadi dimana-mana ? Dan mengapa bahkan untuk mengingat Tuhan pun kita masih sering lupa ?
Yang kita butuhkan, dalam hal ini saya lebih mengedepankan Generasi Kita, bukanlah sekedar ‘Pendidikan Pancasila’. Namun yang lebih utama bagaimana kita benar-benar memahami dan merefleksikan nilai-nilai dalam Pancasila tersebut kepada diri kita.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Chapter 6 : End


Ketika menulis posting ini, saya masih berstatus sebagai ‘calon mahasiswa baru’. Karena penerimaan secara resmi oleh pihak kampus ITS belum kami dapatkan, masih pekan depan kami resmi diterima sebagai ‘mahasiswa baru’. Perjuangan untuk menjadi seorang ‘warga ITS’ pun masih cukup lama, masih harus menjalani masa orientasi selama satu tahun kedepan. Apalagi menjadi seorang ‘sarjana’, wah, masih harus belajar giat selama kurang lebih empat tahun untuk mendapatkan gelar itu. Belum lagi gelar ‘master’, ‘engineer’, ‘boss’, bahkan ‘suami’ ataupun ‘ayah’.
Hidup ini adalah sebuah tangga, kita mungkin telah berhasil melalui sebuah anak tangga, dengan mulus atau harus terpeleset lebih dulu. Namun masih ada anak tangga lagi yang harus kita lalui, tentunya dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya. Dan akan terus berulang seperti itu untuk setiap pencapaian dalam hidup. Tetapi kita semua kadang tidak menyadari, yang kita akan temukan di anak tangga paling atas bukanlah gelar ‘raja agung’ tetapi hanya sebuah gelar ‘almarhum’.
Begitupula dalam hal menulis, bisa dikatakan saya baru berhasil menginjakkan kaki pada anak tangga pertama. Belum pula siap melangkah ke anak tangga berikutnya, masih banyak yang harus saya pelajari. Tapi saya berjanji untuk mulai mencintai dunia tulis-menulis, disamping cinta saya pada dunia baca-membaca.
Ending dari tulisan ini adalah awal keinginan saya untuk menggeluti dunia tulis. Tulisan selanjutnya bisa saja berupa puisi, karya ilmiah, curhatan, atau sekedar buah pikiran. Bisa dalam bahasa, Inggris, bahkan tidak menutup untuk Perancis ataupun Jerman.
Saya hanya ingin dan ingin bisa menulis.
Sekian.

Chapter 5 : Sebuah kebahagiaan


Terus terang, sebulan sebelum SNMPTN berlangsung saya benar-benar belum siap. Belum ada satupun soal tipe SNMPTN yang pernah saya kerjakan, kecuali soal Try Out di awal masa bimbel yang itupun saya kerjakan tanpa berpikir alias asal jawab. Sedangkan hampir tiga bulan sebelumnya saya habiskan untuk berlatih soal tipe UN, fokus UN dulu tanpa memikirkan SNMPTN. Jadi perjuangan SNMPTN saya benar-benar diawali dari nol.
Karena ketatnya tes SNMPTN, maka dibutuhkan beberapa strategi untuk belajar dan memilih jurusan yang diinginkan. Saya sendiri telah jauh-jauh hari memperbincangkannya dengan orang tua saya pilihan jurusan apa yang sebaiknya saya ambil. Pada awalnya saya ingin masuk ITB. Namun seiring banyaknya info yang beredar di internet, tentang bagaimana berat dan mahalnya kuliah di sana, saya akhirnya harus mengubur cita-cita itu. Memang seorang teman pernah berkata kepada saya “Saat ini memang aku ga punya uang, tapi ingat, Allah Maha Kaya”, tapi maaf teman, saya tidak se-pintar dan se-bernyali dirimu.
Akhirnya saya memutuskan untuk memilih arsiteltur ITS sebagai tujuan saya. Disamping ITS memang jauh lebih murah dibanding ITB, kapasitas otak saya pun masih memberikan dukungannya disini. Beruntunglah orang tua saya adalah tipe orang tua yang sangat demokratis, mereka memberi saya kebebasan untuk memilih jurusan apa yang saya inginkan tanpa memaksakan kehendak mereka.
Perjuangan pun di mulai, selama satu bulan lamanya saya, dan saya yakin sama halnya dengan semua teman saya yang lain, berkutat dengan bimbel, soal, rumus, dan semua yang berhubungan dengan tes SNMPTN. Saya sendiri memiliki kiat-kiat tertentu dalam mempersiapkan tes ini. Setiap pagi sampai siang saya sibuk dengan bimbel. Siang sampai sore hari saya gunakan untuk beristirahat. Sedangkan malam hari benar-benar saya gunakan untuk belajar. Ya memang sebelum itu saya dan Dina ( baca postingan awal untuk mengetahui sipa Dina yang saya maksud ) telah berjanji untuk tidak saling mengganggu waktu belajar satu sama lain. Kami menetapkan waktu belajar yaitu selepas shalat magrib sampai pukul sembilan malam.
Saya sebenarnya bukan orang yang benar-benar tahan dalam mengerjakan soal-soal. Saya tipe orang yang lebih suka membaca. Jadi dalam belajar pun, saya lebih suka membaca penyelesaian soal, tentunya sambil mencari tahu darimana jawaban soal tersebut berasal. Dalam mengerjakan soal, dua jam adalah waktu maksimal yang dapat saya lalui. Selepas itu saya sudah tidak dapat memfokuskan pikiran lagi. Sedangkan Dina bisa sampai lebih dari tiga jam. Jadi dapat dikatakan Dina lebih rajin daripada saya.
Satu-satunya hal yang mengganggu fokus tes SNMPTN saya adalah karena adanya SNMPTN Undangan. Ya,,SNMPTN Undangan telah memberikan ‘iming-iming’ yang membuat kami sedikit mengabaikan tes SNMPTN. Kami semua berharap dapat diterima melalui jalur SMPTN Undangan ini. Namun jadwal pengumuman hasil SNMPTN Undangan ini berada di tengah-tengah bulan perjuangan SNMPTN kami. Jadi mau-tidak mau, kami harus mempersiapkan tes SNMPTN sejak awal tanpa menaruh harapan penuh pada SNMPTN Undangan.
Malam itu. Satu jam sebelum Prom Night dimulai, saya dan para Ranger Buntu sedang menunggu hasil pengumuman SNMPTN Undangan dengan harap-harap cemas di markas kami, di kamar sang fotografer. Situs yang sempat bocor sore itu mendadak tertutup kembali. Satu-satunya jalan adalah menunggu sampai pukul tujuh malam, saat situs tempat hasil pengumuman benar-benar dibuka. Tapi masalahnya, Prom Night dimulai setengah jam sebelum waktu tersebut. “Yo opo iki ?” “Budal ae wes !”.
Sesampainya di tempat parkir Convention Hall, tempat acara dilangsungkan, jam menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Ipad dan koneksi internet disiapkan dalam mobil. Situs dibuka. Satu persatu nomor kami dimasukkan. Dari enam orang yang ada di dalam mobil, lima yang mengikuti SNMPTN Undangan, dan cuma satu diantara kami yang dinyatakan lolos. Sang fotografer.
Hidup kembali berjalan. Waktu tes semakin dekat, dan waktu pendaftaran sudah hampir ditutup. Sekali lagi, entah kenapa pilihan saya semakin goyah. Saya bingung mau memilih jurusan apa. Kalaupun arsitektur baiknya dipilih sebagai pilihan pertama atau kedua, lalu pilihan lainnya apa. Karena keadaan yang makin galau, saya memutuskan untuk melakukan Shalat Istikhoroh. Memohon kepada Allah petunjuk, jalan yang dikehendakiNya untuk masa depan saya.
Shalat Istikhoroh terakhir saya lakukan selepas Shalat Jumat di masjid As-Salam SMADA. Setelah selesai, saya turun untuk mengambil sepatu dan bersiap pulang. Ketika sedang memasangkan sepatu pada kaki saya, terdengar teman saya salah satu Ranger Buntu tengah berbincang. “Aku milih Teknik Lingkungan sama Teknik Kelautan, Lingkungan pilihannya ibuku Kelautan pilihanku”. Tiba-tiba saya tertarik pada perbincangan itu. “Teknik Kelautan itu apa se ?” “Pokoknya sipilnya laut” “Kerjanya ?” “Bisa di pertambangan minyak lepas pantai”. Dan Allah pun menunjukkan jalanku. Jalan yang juga direstui oleh orang tuaku, bahkan kali ini mereka lebih antusias.
Satu bulan menganggur setelah tes SNMPTN akhirnya mendekati ujungnya. Hari itu sungguh benar-benar sangat menegangkan. Alhamdulillah dua hari sebelumnya telah ada pengumuman yang menyatakan saya lolos tes PENS-ITS, jadi paling tidak saya telah memiliki cadangan sekolah. Jarum jam perlahan mendekati angka tujuh. Masih ada setengah jam untuk Sholat Isya dan berdoa lebih keras di surau. Selepas itu, yang ada hanya kepasrahan menekan tuts keyboard memasukkan nomor ujian saya.
Lalu ibu saya yang baru selesai dari shalatnya menghampiri, “Gimana ?”. Dengan hati yang masih berdegup kencang, saya genggam tangan beliau, berkata dengan senyum menggantung cerah “Ma, aku anak ITS”. Subhanallah,,air mata sampai menetes dari mata beliau. Juga dari sela sujud syukur saya. Allah telah memberikan anugrah terindahNya malam itu, dalam tujuh belas tahun hidup saya. Doa saya dan semua orang-orang tercinta saya telah dijawab malam itu. Hanya ucapan syukur tak henti-henti yang dapat kami persembahkan.
Allah memberi anugrahnya bukan hanya pada saya malam itu, juga pada banyak sekali teman-teman saya, termasuk Dina. “We did it, yes we did it”, saya dan Dina telah sama-sama berhasil hari itu. Juga banyak teman lain. Melihat timeline jejaring sosial saya berjalan dengan banyak ucapan syukur, saya sendiri ikut terlarut dalam perasaan itu. Rasanya senang sekali, lebih dari sebuah kegembiraan, melihat teman-teman saya yang telah melebihkan usahanya selama beberapa bulan ini mendapatkan apa yang mereka inginkan. Suatu kegembiraan yang benar-benar bebas. Lepas. Alhamdulillah Ya Rabb. Alhamdulillah.
Pagi itu saya berangkat ke ITS dengan pakaian putih-hitam untuk mengikuti kegiatan pelatihan ESQ hari kedua. Kali ini sebagai calon mahasiswa baru ITS. Sebuah kebahagiaan baru mengembang dalam diri saya. Semalam, ibu memberi tahu satu hal kepada saya, “Papamu bangga banget kamu masuk ITS, seneng banget kelihatannya”. Dan sekali lagi syukur saya panjatkan. Hari ini, paling tidak saya telah membuat orang tua saya bangga. Meskipun masih banyak anak tangga yang harus saya lewati untuk menuju kesuksesan, paling tidak saat ini saya telah berhasil menduduki satu tangga sebagai awal langkah menuju anak tangga paling atas. Saya akan membuat orang tua saya bangga, bukan hanya sekali, tapi akan saya lakukan sebanyak apapun yang saya bisa. Dengan izin Allah saya akan melakukannya.